musik folk
Lain-Lain

Mengenal Musik Folk, Ternyata Masih banyak yang Salah Persepsi

Musik adalah dunia yang penuh warna. Lewat musik manusia bisa mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk karya atau bunyi yang indah, nyaman di dengar, dan tentu saja mampu memberikan inspirasi bagi para penikmatnya.

Lewat musik seseorang bisa memberikan gambaran secara lebih tajam dan mendalam tentang berbagai pandangan-pandangannya terhadap hidup.

Lewat musik pula seseorang bisa mengutarakan gagasan yang mungkin saja berada di bawah represi akibat adanya tekanan-tekanan normatif sosial yang dirasa perlu untuk ada.

Folk, Satu Nama Yang Tiba-Tiba Menyeruak

Apapun dan bagaimanapun, musik lahir dari kemauan manusia untuk mengemas segala bunyi menjadi bentuk yang indah dan bisa dinikmati. Karenanya ditemukanlah alat musik bermacam ragamnya.

Dari sekian banyak alat yang ada ini, selanjutnya munculah gaya dan cara memainkan alat musik tersebut. Tentu dihasilan pula beragam gaya bermusik, yang kerap disapa dengan genre.

Belakangan di beberapa media yang khusus menghadirkan ulasan soal musik. Genre Folks kian naik menjadi subyek dan perhatian tentu menjadi buah dari setiap narasi yang muncul.

Sebenarnya apakah folk musik itu sendiri?

Singkatnya, adalah seorang Thomas William yang pada kurun 1846 ditengari sebagai seseorang yang pertama mulai menggunakan atau bisa dibilang mempopulerkan kata folk, dalam memberikan deskripsi pada hal-hal yang ditandai dalam makna beberapa kata seperti, adat-istiadat, cerita rakyat, juga tradisi masyarakat lokal daerah tertentu.

William, menggunakan gambaran-gambaran pada deskripsi terkait beberapa kata tersebut. Tentu saja tulisannya bersifat akademis yang kemudian hanya dikenal beberapa orang saja.

Sebagai sebuah genre, musik folk mulai diterima dan secara langsung resmi menjadi salah satu genre dalam industri musik internasional adalah pada kisaran 1987.

Ini bersamaan dengan Bob Dylan menyabet Grammy Awards dengan kategori Best Contemporary Folk Recording, folk yang tadinya terbilang lebih lekat dengan segala hal yang berbau-bau tradisi, bahkan tuturan oral alakadarnya yang diiringi dengan alat musik apa adanya, masuk ke kancah industri musik yang keras itu.

Benarkah Folks Lekat Dengan Tradisi dan Bisa Saja Bernilai Kultural?

Bila seseorang menuturkan bahwa musik folks mungkin saja bernilai kultural, identik dan lekat geopolitis sebuah wilayah tersebut. Maka jawabannya bisa benar.

Ini berangkat dari karakteristik musik folks yang sangat mungkin mengali kearifan lokal sebuah peradaban masyarakat.

Lalu bagaimana kita membedakan folks dan tidak folks?

Tak ada unsur yang paling kentara, yang pasti folks punya sifat dan karakteristik yang dalam berbagai literatur dideskripsikan secara kurang lebih sederhana dan analog, bila tak bisa disebut akustik.

Baca Juga : Gaya Pacaran Milenial VS Generasi X, Mana yang Paling Seru?

Tak heran folks lebih sering disimbolkan dengan instrumen musik akustik seperti akordeon, gitar tabung, harmonika dan sejenisnya.

Lebih lanjut, musik Folk, punya ciri yang sangat kedaerahan. Sebut saja di berbagai tempat di belahan dunia. Bila di Spanyol masyarakat senang dengan gitar dalam menciptakan musik pengiring untuk tarian eksotis Flamenco, di Balkan, akordeon kerap mengalun, memberikan kesan paling kentara dari suara merdunya yang menyayat itu.

Kalau Amerika, sekali lagi dengan Bob Dylan dan musisi folk papan atas mereka yang mampu besar dengan kesadaran industri yang tinggi, maka Eropa juga tak kalah sebut saja Pieter Kennedy, atau Alan Stivell, semua memberikan corak bagi musik yang kerap lahir sebagai bagian respon masyarakat terhadap lingkungan geopolitis-nya ini.

Lalu Bagaimana dengan Musik Folks di Indonesia?

Ini adalah pertanyaan inti. Indonesia sendiri sebenarnya sudah kaya dengan musik etnis.

Lalu sejak era 60 an sudah muncul grup-grup yang kerap berdendang dengan irama ini, sebut saja Prambors dan Bimbo. Di era 70 dan 80 an folks semakin berjaya.

Para penyanyi solo lantas membesarkan nama mereka sendiri, sebut saja seorang Franky Sahilatua, Iwan Fals, Ebiet G Ade, semua memilih folks sebagai irama bagi instrumen sekaligus aransemen yang mereka kumandangkan.

Kini, di era modern, grup semacam Banda Neira, juga Payung Teduh tampaknya sempat mengembalikan folks pada haribaan telinga penikmat musik dalam negeri.

Sayang Payung Teduh harus kandas dengan hengkangnya Mohammad Istiqomah Djamad pada akhir 2017 silam.

Namun, apapun itu, laju dan berlalunya grup serta mereka yang berdendang dengan irama musik Folks. Sebagai sebuah genre, ia tak akan pernah luntur.